Pengendalian Hama Brontispa longissima pada Tanaman Kelapa

Brontispa longissima

Brontispa longissima atau sering disebut kumbang janur merupakan salah satu hama utama pada tanaman kelapa. Menyerang pada hampir semua tahap umur tanaman, terutama tanaman yang sudah menghasilkan. Hal ini disebabkan karena secara morfologi tanaman kelapa setiap bulan menghasilkan janur baru yang merupakan sumber makanan Brontispa.

Siklus Hidup

Masa inkubasi telur 3-7 hari. Tahap perkembangan larva 23-54 hari, pupa 4-6 hari. Lama hidup kumbang berkisar 2,5-3 bulan. Perkembangan dari telur sampai imago 5-7 minggu. Rata-rata satu ekor betina dapat meletakkan telur sebanyak 50-117 butir.

Gejala Serangan

image002image004

Gambar 1. Kumbang Brontispa longissima dan gejala serangannya.

Larva dan imago Brontispa longissima memakan permukaan dalam janur kelapa yang belum membuka, menimbulkan bercak-bercak berwarna coklat memanjang dan menyatu sehingga janur kelapa menjadi keriput seperti terbakar.

Hama ini tidak menyukai cahaya sehingga pada saat daun terbuka, larva dan imago akan berpindah menyerang daun yang lebih muda. Pada serangan berat anak daun tidak membuka sempurna, asimilasi daun terhambat, buah mudah gugur, dan dapat mematikan tanaman.

Cara Pengendalian

Sebelum melakukan pengendalian ada baiknya dilakukan pengamatan pada 10 pohon/ha kemudian dihitung jumlah kumbang pada setiap pelepah muda dengan cara membuka pinak daun yang masih tertutup (janur). Jika jumlah rata-rata kumbang Brontispa longissima sudah mencapai 10 ekor/tanaman maka tindakan pengendalian harus segera dilakukan.

Kultur Teknis

Pemupukan, pengelolaan air dan sanitasi kebun untuk menunjang pertumbuhan tanaman yang baik. Tindakan ini dilakukan mengingat tanaman kelapa akan lebih rentan terhadap serangan Brontispa longissima jika keadaan kebun tidak terpelihara dan tanahnya tergenang.

Mekanis

Dilakukan dengan mengikat, memotong, menurunkan dengan tali, dan membakar janur kelapa yang terserang Brontispa longissima. Pemotongan pucuk janur ini diulang setelah pucuk baru tumbuh lagi sampai gejala serangan hilang. Cara ini cukup mudah dan murah, namun cukup sulit untuk tanaman yang tinggi.

Hayati

Pengendalian secara hayati adalah kegiatan mengendalikan populasi hama dengan menggunakan parasitoid, predator, dan entomopatogen yang merupakan musuh alami dari hama tersebut.

Saat ini musuh alami yang potensial dalam mengendalikan hama Brontispa longissima adalah parasitoid Tetrastichus brontispae, predator Cocopet (Chelisoches morio), dan entomopatogen Metarhizium anisopliae.

  • Pelepasan Parasitoid Tetrastichus brontispae

Aplikasi parasitoid Tetrastichus dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:

  1. Parasitoid Tetrastichus terletak dalam koker yang berisi pupa terparasit. Satu koker berisi ±10 pupa.
  2. Ikat koker dengan kawat kemudian gantungkan pada pelepah tanaman yang terserang hama Brontispa.
  3. Pelepasan parasitoid Tetrastichus dapat dilakukan pada lima titik dalam satu hektar tergantung tingkat kerusakan tanaman dan populasi hama.
  4. Jangan meletakkan pada tanaman yang tidak terserang Brontispa, Tetrastichus akan mati karena tidak memiliki sumber makanan.

image006image008

image010image012

Gambar 2. Koker berisi pupa terparasit dan pemasangannya.

  • Pelepasan Predator Cocopet (Chelisoches morio)

Cocopet tidak hanya memangsa satu stadia perkembangan hama Brontispa longissima namun hampir semua tahap perkembangan seperti larva, pupa dan imago serta dapat memangsa Brontispa longissima secara berkelanjutan selama hidupnya.

Cocopet dapat diperbanyak menggunakan media campuran tanah dan pasir dengan perbandingan 1:1. Makanan untuk cocopet dapat menggunakan bahan-bahan organik, kompos, dan sisa-sisa sampah. Makanan diganti atau ditambahkan setiap 2-3 hari sekali.

Sebagai suplemen dalam perbanyakan massal ini pada setiap wadah perbanyakan ditambahkan serasah daun kelapa kering sebagai tempat persembunyian Cocopet (karena Cocopet cenderung merupakan binatang yang tidak menyukai cahaya terang), dan sebagai tempat meletakkan telurnya.

image014image016

Gambar 3. Perbanyakan predator Cocopet.

Setelah dilakukan perbanyakan Cocopet dapat dilepaskan pada bagian pucuk tanaman yang terserang hama Brontispa. Jumlahnya dapat disesuaikan tergantung tingkat kerusakan tanaman dan populasi hama.

  • Penggunaan Entomopatogen Metarhizium anisopliae

Jamur Metarhizium dapat diaplikasikan dengan cara membuat suspensi cendawan kemudian disemprotkan pada tanaman kelapa yang terserang hama Brontispa.

Cairan semprot diaplikasikan pada bagian pucuk sekitar 100 ml pertanaman. Penyemprotan sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari dan hindari sinar matahari langsung.

image017

Gambar 4. Larva Brontispa longissima terinfeksi Metarhizium, miselium menutupi tubuh larva dan mulai tumbuh konidia (atas); konidia menutupi tubuh larva (bawah).

Karantina

Telur, larva, pupa atau imago Brontispa longissima dapat menyebar dari daerah yang terserang ke daerah lain melalui bahan tanaman yang terserang (bibit kelapa atau palma hias), tubuh manusia, hewan, dan kendaraan. Pada saat mengekspor produk-produk pertanian dari daerah serangan Brontispa hindari penggunaan daun kelapa sebagai pembungkusnya. Peraturan karantina perlu diterapkan untuk menghindari penyebaran ke daerah-daerah lain yang masih bebas serangan Brontispa longissima.

Kimiawi

Pengendalian secara kimiawi merupakan alternatif terakhir dan harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Pestisida yang dapat digunakan antara lain Spontan, diaplikasikan dengan cara injeksi batang dan infus akar pada tanaman terserang, dengan dosis 10-15 cc / batang.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

fifteen − six =