PUASA RAMADHAN DAN PENINGKATAN ETOS KERJA BIROKRAT

Puasa Ramadhan dan Peningkatan Etos Kerja Birokrat

ilustrasi-pns_20161017_223115

Ramadhan merupakan bulan yang penuh berkah dan ampunan sehingga selalu dijadikan momen yang tepat untuk mendekatkan diri kepada Allah. Hampir tidak ada waktu yang terlewatkan kecuali hanya untuk memperbanyak ibadah dalam hari-hari Ramadhan. Bahkan tidak sedikit orang yang menyedikitkan tidur pada malam hari hanya untuk menghidupkan malam-malam Ramadhan dengan penuh hikmat dan syahdu. Bulan Ramadhan dijadikan Allah SWT. bagi umat Islam adalah sebagai ladang untuk beramal saleh. Maka umat Islam harus mampu memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya agar di akhir Ramadhan menjadi insan yang muttaqin. Pada bulan Ramadhan semua ibadah akan dilipat gandakan pahalanya. Oleh karena nilai ibadahnya tinggi, sudah semestinya pula setiap individu akan berlomba-lomba untuk beraktivitas dalam upaya meningkatkan produktivitas kerja yang baik. Maka pada bulan Ramadhan, diharapkan tingkat semangat dan praktek beribadah semakin tinggi dengan tanpa mengurangi tingkat etos kerja. Menjadi suatu hal yang keliru jika etos kerja keseharian berkurang atau menurun dibanding dengan hari-hari di luar Ramadhan.

Demikianlah mereka yang melihat dan menjadikan Ramadhan sebagai medan untuk meningkatkan kualitas diri dan ibadah kepada Allah. Sehingga kehadiran Ramadhan memberikan dampak positif kepada mereka dalam meningkatkan kuantitas serta kualitas ibadah kepada Allah. Puasa mengandung banyak spirit. Menurut Apridar (2013), dalam ibadah puasa, terdapat tiga nilai pokok, yakni pertama, adalah adanya sikap kritis dan peduli terhadap lingkungan sosial sekitar; kedua, adanya keterkaitan antara kesalehan pribadi dan kesalehan sosial (kelompok), dan; ketiga, lahirnya jiwa keagamaan yang inovatif, kreatif, efesiensi dan inovatif. Dari berbagai kajian disiplin ilmu, puasa bagi seseorang mengandung banyak manfaat, baik dari segi kesehatan, ekonomi, politik dan pendidikan. Di antara spirit yang tak kalah penting dari esensi puasa adalah meningkatnya etos kerja manusia dalam menjalani rutinitas pekerjaanya.

Seterusnya, Apridar (2013) menerangkan bahwa puasa setidaknya akan melahirkan lima spirit dalam etos kerja: Pertama, munculnya hubungan spiritual yang erat manusia terhadap Allah. Sehingga menjadikan manusia bersungguh-sungguh dalam peningkatan produktivitas kerja pada bulan Ramadhan; Kedua, spirit puasa menjadikan manusia menjaga hubungan yang harmonis, selaras dan serasi dengan relasi kerjanya. Baik antara bawahan dengan atasan, maupun antarinstitusi; Ketiga, spirit puasa melahirkan manusia untuk menempuh cara-cara yang “halal” baik dalam menjalani suatu pekerjaan, maupun dalam proses mencari pekerjaan. Keempat, spirit melahirkan manusia pada level saling menghormati, toleransi dan menyanyangi antar makhluk sebagai pencipta dari Tuhan semesta, dan; Kelima, spirit puasa meningkatnya profesionalisme dalam setiap pekerjaan yang di emban.

Jika setelah Ramadhan, etos kerja dan produktivitas menurun, disiplin kerja dilanggar, maka puasa seseorang itu, tidak dilandasi pada makna filosofis, melainkan hanya bermain pada tataran historis atau ritual semata. Mumpung bulan Ramadhan 1438 H masih ada beberapa hari lagi, mari kita manfaatkan untuk memperkuat ubudiyah kita kepada Allah SWT, sekaligus meningkatkan etos kerja kita sebagai birokrat yang profesional. Selamat menyambut Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1438 H. (Red., Above 2017)

Sumber Bacaan :

  1. Apridar. 2013. Puasa dan Etos Kerja. Disitasi dari http://aceh.tribunnews.com/2013/07/18/puasa-dan-etos-kerja
  2. Marpaung, Watni. 2016. Spirit Puasa Dan Etos. Disitasi dari www.waspadamedan.com/index.php?…puasa-dan-etos-kerja…

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

seventeen − 3 =