Sejarah Singkat

Kabupaten Indragiri Hilir secara geografis terletak di bagian selatan Provinsi Riau. Mata pencarian utama penduduk di Kabupaten Indragiri Hilir adalah berkebun kelapa dalam (tall) yang dalam bahasa sehari-hari disebut sebagai kelapa lokal. Sejarah mencatat bahwa tanaman kelapa telah lama dibudidayakan oleh masyarakat di Kabupaten Indragiri Hilir. Setelah kedatangan Tuan Guru Syekh Abdurrahman Shiddiq al Banjari, Mufti Kerajaan Indragiri, beliau mempelopori pembuatan parit (kanal air) yang terkenal dengan nama Parit Hidayat (Parit Petunjuk). Secara teknis pembuatan parit sangat tepat diterapkan dalam budidaya tanaman perkebunan di lahan gambut.

Berdasarkan data yang dimiliki oleh Dinas Perkebunan Kabupaten Indragiri Hilir, pada tahun 2014 luas tanam kelapa dalam mencapai 391.745 Hektar atau setara dengan 65.93 % dari total luas lahan perkebunan di Kabupaten Indragiri Hilir atau setara 10,46 % dari luas tanam kelapa nasional. Oleh karenanya, Kabupaten Indragiri Hilir dijuluki sebagai Negeri Hamparan Kelapa. Namun berdasarkan hasil olahan data yang diperoleh dari Direktorat Jenderal Perkebunan tahun 2012, produktivitas kelapa dalam di Kabupaten Indragiri Hilir 1,16 Ton / Hektar / Tahun setara Kopra, masih berada di Bawah Standar Produktivitas Kelapa Nasional (1,50 Ton / Hektar / Tahun setara Kopra.

Dari hasil identifikasi di lapangan, ditemukan bahwa faktor penyebab rendahnya produktivitas kebun kelapa disebabkan oleh akumulasi antara luasnya tanaman kelapa dalam dengan kondisi tua dan rusak (TTR) yang belum direhabilitasi / diremajakan dengan laju intrusi air laut yang cukup tinggi setiap tahunnya karena rusaknya tanggul, saluran / parit tidak berfungsi dan pintu klep yang rusak. Akibatnya, areal perkebunan kelapa yang rusak dan kritis semakin luas dari tahun ke tahun. Pada Tahun 2014 tercatat luas kebun kelapa tua dan rusak (TTR) per Kecamatan di Kabupaten Indragiri Hilir mendekati angka 100.000 Hektar.

Sementara di sisi lain, keberhasilan budidaya tanaman kelapa di lahan gambut pasang surut sangat ditentukan dengan kondisi Trio Tata Air, yakni 1) Tanggul Penahan Intrusi Air Laut, 2) Saluran Air (Drainase / Parit / Kanal) dan 3) Pintu Klep yang kesemuanya harus baik dan berfungsi. Penerapan sistem ini merupakan bentuk adaptasi dan kearifan lokal (local wisdom) masyarakat terhadap keberlangsungan ekosistem hayati di lahan gambut.

Mengingat pentingnya peran dan fungsi infrastruktur kebun, maka permasalahan kerusakan perkebunan kelapa dalam ini perlu ditangani dengan cepat dan tepat. Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir setiap tahun anggaran selalu memprioritaskan anggaran untuk perbaikan infra struktur perkebunan, yang meliputi :

1)  pembangunan tanggul secara mekanik menggunakan alat berat,
2)  pembangunan tanggul secara manual,
3)  normalisasi saluran air untuk perkebunan
4)  perbaikan dan pembangunan pintu klep.

Upaya-upaya tersebut masih belum mampu optimal mengatasi kerusakan infrastruktur perkebunan kelapa dalam. Hal ini dikarenakan kebun kelapa dalam yang mengalami kerusakan sangat luas dan laju kerusakan kebun yang tidak sebanding dengan upaya penanganan. Di sisi lain, kemampuan anggaran Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir setiap tahunnya masih sangat terbatas untuk dapat menyelamatkan kebun kelapa dalam milik rakyat ini. Guna mensiasati keterbatasan anggaran ini, maka diperlukan sinergisitas antara seluruh satuan kerja terkait, baik di tingkat Kabupaten, Provinsi maupun pusat.

Selain itu, diperlukan upaya lain sebagai suatu terobosan untuk percepatan penanganan kerusakan trio tata air ini. Oleh karenanya, dirumuskan suatu landasan hukum bagi Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir untuk mendelegasikan kewenangan pengelolaan excavator kepada Pemerintah Kecamatan. Sebagai hasil dari rumusan tersebut, maka diterbitkan Peraturan Bupati Indragiri Hilir Nomor 16 Tahun 2015 Tanggal 18 Mei 2015 tentang Penggunaan Excavator untuk Pembangunan / Rehabilitasi Prasarana Trio Tata Air Perkebunan yang Dikelola Pemerintah Kecamatan.

Tanaman kelapa bukan hanya sekedar tanaman kehidupan tetapi juga motor penggerak perekonomian masyarakat di Kabupaten Indragiri Hilir. Oleh karenanya, upaya perbaikan dan pembangunan trio tata air guna tercapainya peningkatan produksi dan produktivitas kebun kelapa, mutlak dilakukan oleh setiap strata pemerintahan dan perlu didukung dengan partisipasi aktif semua pihak, agar kejayaan kelapa di Kabupaten Indragiri Hilir tidak menjadi sekedar sejarah dan kenangan, tetapi harus terus dipertahankan sebagai sebuah identitas diri dan kebanggaan Kabupaten Indragiri Hilir.

Ke pasar pagi membeli sayur dan pepaya.
Jangan lupa beli buah pinang dan kelapa.
Perbaikan infrastruktur kebun membutuhkan biaya.
Mari bersama berjuang untuk mendapatkannya.

Kabupaten Indragiri Hilir negeri tersohor.
Hamparan kelapanya masyhur dikenal.
Pemerintah Kecamatan telah diberikan bantuan excavator.
Agar dimanfaatkan secara optimal.

Dari Tembilahan ke Sungai Raya.
Singgah dahulu memetik pinang.
Mari bersama selamatkan tanaman kelapa.
Agar rakyat makmur terbilang.